Translate

Tampilkan postingan dengan label Walialloh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Walialloh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Agustus 2017

Walialloh

HAKEKAT WALIYULLAH DAN KAROMAHNYA
Foto Alhikmah.
Bag. ke 8 : MANAQIB WALI AGUNG
SAYYIDAH ROBI’AH AL-‘DAWIYYAH ra.
Beliau adalah paling masyhur-masyhurnya Wali putri, ahli ibadah siang dan malam dan seorang gembong mahabbah (sangat cinta) kepada Allah Swt, sampai beliau tidak sempat bersuami selama hidupnya.
Menurut riwayat yang masyhur Ayah dan Ibunya orang yang sholeh dan sholehah walaupun keadaannya sangat faqir/miskin serta di karuniai 3 (tiga) anak putri semua.
Dan Beliau Sayyidah Rabi’ah adalah anak keempat dari empat saudara. Semuanya perempuan. Ayahnya menamakan Rabi’ah, yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu. Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Keinginan untuk memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karena keluarga Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh keshalehan. Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasa hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.
Rabi’ah memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuk sya’ir-sya’ir Cinta Ilahinya yang kerap ia senandungkan. Namun begitu, Sya’ir-sya’ir sufistiknya justru banyak dikutip oleh para penulis biografi Rabi’ah, antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengan karyanya Mir’at az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu Khallikan (w. 1282 M) dengan karyanya Wafayatul A’yan (Obituari Para Orang Besar), Yafi’I asy-Syafi’i (w. 1367 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi Hikayat ash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam Kehidupan Para Orang Saleh), dan Fariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya’ (Memoar Para Wali).
Dari sekian banyak penulis biografi Rabi’ah, Tadzkirat al-Awliya’ karya Fariduddin Aththar tampaknya dianggap sebagai buku biografi yang paling mendekati kehidupan Rabi’ah, terutama ketika awal-awal Rabi’ah akan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin itu (tapi ada yang menyebutkan bahwa keluarga Rabi’ah sebenarnya termasuk keturunan bangsawan). Riwayat Aththar, yang dikutip Margaret Smith dalam bukunya Rabi’a the Mystic & Her Fellow-Saints in Islam (sebuah disertasi, terbitan Cambridge University Press, London, 1928), antara lain banyak mengungkap sisi-sisi kehidupan Rabi’ah sejak kecil hingga dewasanya.
Diceritakan, sewaktu bayi Rabi’ah lahir malam hari, di rumahnya sama sekali tidak ada minyak sebagai bahan untuk penerangan, termasuk kain pembungkus untuk bayi Rabi’ah. Karena tak ada alat penerangan, ibunya lalu meminta sang suami, Ismail, untuk mencari minyak di rumah tetangga. Namun, karena suaminya terlanjur berjanji untuk tidak meminta bantuan pada sesama manusia (kecuali pada Tuhan), Ismail pun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Saat Ismail tertidur untuk menunggui putri keempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad Saw dan bersabda : “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”
Ayah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan janggutku.”
Aththar juga menceritakan mengenai nasib malang yang menimpa keluarga Rabi’ah. Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia. Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan suadara-saudaranya terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itu sendirian.
Suatu hari, ketika sedang berejalan-jalan di kota Basrah, ia berjumpa dengan seorang laki-laki yang memiliki niat buruk. Laki-laki itu lalu menarik Rabi’ah dan menjualnya sebagai seorang budak seharga enam dirham kepada seorang laki-laki. Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Suatu ketika, ada seorang laki-laki asing yang datang dan melihat Rabi’ah tanpa mengenakan cadar. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu meronta dan kemudian jatuh terpeleset. Mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata: “Ya Allah, aku adalah seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatim piatu dan seorang budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipun demikian aku tidak bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku ingin sekali ridla-Mu. Aku ingin sekali mengetahui apakah Engkau Ridla terhadapku atau tidak.” Setelah itu, ia mendengar suara yang mengatakan, “Janganlah bersedih, sebab pada saat Hari Perhitungan nanti derajatmu akan sama dengan orang-orang yang terdekat dengan Allah di dalam surga.”
Setelah itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari. Konon, dalam menjalankan ibadah itu, ia sanggup berdiri di atas kakinya hingga siang hari.
Pada suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah. Dalam shalatnya Rabi’ah berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Jika persoalannya hanyalah terletak padaku, maka aku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadah kepada-Mu, ya Allah. Karena Engkau-lah yang telah menciptakanku.” Tatkala Rabi’ah masih khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya Rahmat Tuhan) dari seorang Muslimah suci.
Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ke tempat tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.
Dalam pengembaraannya Rabi’ah berkeinginan sekali untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Akhirnya, ia berangkat juga dengan ditemani seekor keledai sebagai pengangkut barang-barangnya. Sayangnya, belum lagi perjalanan ke Mekkah sampai, keledai itu tiba-tiba mati di tengah jalan. Ia kemudian berjumpa dengan serombongan kafilah dan mereka menawarkan kepada Rabi’ah untuk membawakan barang-barang miliknya. Namun, tawaran itu ditolaknya baik-baik dengan alasan tak ingin meminta bantuan kepada bukan selain Tuhannya. Ia hanya percaya pada bantuan Allah dan tidak percaya pada makhluk ciptaan-Nya.
Beliau selalu amat takutnya kepada Allah Swt dan pekerjaannya sehari-hari sering menangis dan susah.Air matanya selalu membasahi tempat sujudnya dan kain kafan mayatnya selalu tersedia di pasang di depannya.Apabila mendengar sebutan neraka beliau kemudian jatuh pingsan sampai cukup lama.
Di antara sabdanya : Istighfar /minta ampun dan bertaubat kita itu masih membutuhkan di istighfari lagi. Semoga kita di anugerahi oleh Rasa cinta yang sebenarnya kepada Allah Swt dan kita mampu mengikuti jejak amaliyah beliau………….Lahal-Fatikhah

Minggu, 20 Agustus 2017

Tempat Tinggal Rosululloh Muhammad S.A.W

RUMAH ROSULLULLOH MUHAMMAD SAW 

yang Wajib Kamu Tahu
Sudahkan ada bayanyan, pemikiran atau gambaran kira-kira seperti apa sih wujud rumah Nabi Muhammad SAW, seorang manusia paling mulia di dunia ini, bahkan seluruh makhluk yang Alloh SWT ciptakan?
Jika sobat membayangkan rumah Nabi dan Rosululloh Muhammad SAW terdiri bangunan mewah, berlantaikan marmer paling mahal, atau dinding dari safir, atap dari genting paling mahal saat ini, serta desain interior yang rumit nan elok, semua anggapan itu adalah salah besar.
Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat bareng-bareng foto rumah Rosululloh Muhammad SAW berikut ini.
Nih selengkapnya penampakan foto rumah kediaman Rosullulloh Muhammad SAW.
Sebuah rumah yang bertuliskan "hujroh 'Aisyah" yang berarti bilik 'Aisyah, yang hanya terbuat dari dinding tanah liat dengan tempat tidur berupa tikar, serta atap terbuatkan dari pelepah kurma atau jerami.
Dengan bantal yang telah "usang" tidak seperti empuknya bantal dan kasur yang kita pakai di rumah.
Beberapa perlengkapan keluarga seperti guci,tongkat dll.
Juga sangat jauh dengan apa yang kita bayangkan.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan, ketika Sahabat Umar melihat kondisi tempat tinggal Nabi Muhammad SAW.
Dari keadaan rumah seperti itu.
Umar Radhyullahu Anhu berkata, “Demi Allah! Saya terharu dan menangis, setelah mengetahui bahwa engkau lebih mulia dari raja-raja dan kaisar - mereka hidup sesuai dengan kemauan di dunia (mewah dan kaya).
Sementara engkau adalah Rasullullah (utusan Allah), seperti yang saya lihat, engkau tidur di tempat seperti ini (sangat sederhana).”
Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam lalu bertanya, “Bukankah kamu suka kalau mereka mendapat kesenangan dunia sementara kita mendapat kesenangan akhirat?” Umar Radhyullahu Anhu menjawab, “Tentu, wahai Rasul”! Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam berkata lagi, “Memang demikianlah adanya.” [Hadits Riwayat Ahmad].
Diriwayatkan pula:
Dari 'Aisyah Radhyullahu 'Anha, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam menghamparkan sebahagian tikar diwaktu malam dan Baginda Shallallahu ‘Alayhi Wasallam shalat di atasnya. Baginda pun menghamparkan tikar itu disiang hari untuk tempat orang-orang duduk” [Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Al-Baihaqi].
Sebelum melihat lebih jauh foto rumah Nabi Muhammad SAW, silakan melihat sketsanya terlebih dahulu, untuk mengetahu kira-kira luas Rumah Nabi Muhammad SAW berapa.
Sketsa luas rumah Nabi Muhammad SAW.
Luas rumah Nabi Muhammad SAW sendiri panjangnya sekitar 5 meter , lebarnya 3 meter, serta tinggi atap sekitar 2,5 meter.
Hal ini seperti disebutkan dalam salah satu hadist Imam Buckhori, di mana Daud Bin Qais berkata, "Saya melihat kamar Raslulullah SAW.
Kira-kira 6 atau 7 hasta.
Luas rumah dari dalam 10 hasta dan tingginya kira-kira 7-8 hasta."
Seperti kita ketahui, bahwa satu hasta kurang lebih sama dengan 0,45 meter.
Sementara untuk interiornya dalam tergantung busur, anak panah dan pedang.
Selain itu, juga ada ranjang tidur sederhana, seperangkat peralatan dapur dan sebuah meja.
Semoga dengan melihat dan memahami bagaimana sesungguhnya kemualiaan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang makhluk paling mulia di dunia ini, faktanya penuh dengan kesederhanaan, kedermawanan dan kesholihan.
Dan semoga hal ini bisa menumbuhkan dan menguatkan keimanan kita pada Allah SWT, aamiin.
NB:
Tolong sebarkan (shared) informasi ini kepada saudara muslim lainnya agar kita lebih faham dan mengerti akan kehidupan Rosullulloh Muhammad SAW.
Dengan harapan akan muncul perasaan semakin "mahabbah" cinta kepada kekasih Alloh SWT.
Dan semoga kita mendapatkan ridlo-Nya, aamiin.
Salam.

Foto Alhikmah.
Foto Alhikmah.
Foto Alhikmah.

Pengalaman Sayyidina Syeh abdul Qodir Al Jaelani

"Manaqib Sayyidina Syeikh 'Abdul Qodir al Jailani ra"
***UJIAN SYEIKH AHMAD AD DABBAS TERHADAP SYEIKH ABDUL QODIR AL JAILANI RA.
***SAYYIDINA SYEIKH ABDUL QODIR MENGHIDUPKAN KEMBALI AYAM YANG SUDAH MATI.
* Manqobah ke 53 : Diriwayatkan bahwa Syeikh Ahmad Ad Dabbas semasa masih muda, sering Ia mendengar orang-orang menyebut nama Sayyidina Syeikh 'Abdul Qodir al Jailani ra, maka Ia berkata, "Aku pernah melihat diatas kepala Syeikh 'Abdul Qodir ada dua bendera kewalian yang berdiri tegak dari dasar bumi yang paling bawah hingga ke alam Malakut yang paling tinggi, aku dengar suara penyeru mengatakan bahwa Syeikh 'Abdul Qodir al Jailani termasuk kelompok para siddiq".
Diriwayatkan juga bahwa pada suatu hari Sayyidina Syeikh 'Abdul Qodir al Jailani mendatangi Syeikh Hammad ketika masih muda. Syeikh Hammad berdiri dan menyambutnya dengan penuh hormat seraya berkata, "Selamat datang wahai gunung yang kokoh dan pasak yang canggih, engkau dapat digerakkan oleh apapun". Kemudian Ia mempersilahkan Syeikh 'Abdul Qodir duduk disisinya. Tanya Syeikh Hammad, "Apa perbedaan hadits dengan Firman ?".
Setelah Syeikh 'Abdul Qodir al Jailani menjawab pertanyaannya, lalu Syeikh Hammad berkata, "Sesungguhnya engkau adalah tokoh para Arif billah dimasamu ini".
* Manqobah ke 54 : Diriwayatkan bahwa ada seorang wanita datang ketempat Sayyidina Syeikh 'Abdul Qodir al Jailani ra bersama putranya. Ia berkata, "Wahai Syeikh 'Abdul Qodir, aku berkenan menyerahkan putraku ini kepadamu, agar engkau mendidiknya sampai menjadi orang yang sepertimu". Maka ia mendudukkannya ditempat khalwat.
Setelah beberapa waktu, sang Ibu menjenguk anaknya. Tetapi Ia terkejut melihat tubuh anaknya kurus dan lemah, dan disampingnya ada pecahan roti-roti kering. Maka sang Ibu mendatangi Syeikh 'Abdul Qodir ditempatnya, dan Ia menjadi heran bukan kepalang, karena Syeikh 'Abdul Qodir sedang makan daging ayam.
Sang Ibu berkata, "Wahai Syeikh 'Abdul Qodir, mengapa engkau makan daging ayam, sedangkan putraku hanya makan roti kering
hingga tubuhnya menjadi kurus dan lemah ?".
Sayyidina Syeikh 'Abdul Qodir al Jailani ra tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Beliau ra terus saja mengumpulkan tulang- belulang ayam itu lalu berkata, "Wahai ayam, bangkitlah engkau kembali dengan Ijin Allah". maka atas ijin Allah tulang-belulang itu bangkit menjadi ayam hidup kembali.
Syeikh 'Abdul Qodir berkata, "Aku ingin mendidik putramu sampai mencapai kedudukan seperti aku. Kalau ia telah mencapai kedudukan seperti aku, maka boleh apa saja yang ia inginkan".
Maka kata sang Ibu kemudian, "Kini aku tidak peduli lagi tentang anakku, dan aku menyerahkan urusannya kepadamu".
*********************
*** Khusushon ilaa hadrotii sulthonil 'auliya' al quthbur rubbanii wal haikalis shomadanii sayyidina Syeikh 'Abdul Qodir al Jailani rodliyallaahu anhu, wa 'alaa alihii, wa ahli baitihii, wa Furu'ihii
Al Fatihah .......................
--------------------------------------------------------------------------
"ALLOOHUMMANSYUR NAFAHAATIR RIDLWAANI 'ALAIHI, WA AMIDDANAA BIL ASROORIL LATHII AUDA' TAHAA LADAIHI"
(Yaa Allah, hamparkanlah bau harum keridloanMU kepada Kanjeng Syeikh, dan anugerahkanlah kepada kami berkah rahasia kewalian yang Engkau titipkan kepada Kanjeng Syeikh).
-------------------------------
Referensi
1. Kitab "Tafrihul Khaathiir"
2. Kitab "Jami' Keramat al 'Auliya'
3. Kitab "Dararul Jawahir"
4. Kitab "Tuhfatus Sairi"
5. Kitab "Bahjatul Asrar"
6. Kalam para Sufi

Telusuri Tentang Blog Disini